Cara budidaya lele modern sistem bioflok

07.02
Cara budidaya lele dengan sistem bioflok sebenarnya hampir sama dengan cara budidaya lele organik, sama-sama menggunakan mikro organisme baik sebagai bahan utama pakan alami untuk ikan lele. Sedikit perbedaan yang menonjol adalah bahan yang di gunakan untuk menciptakan bakteri non patoghen atau yang sering di sebut dengan mikro organisme baik. Dalam sistem bioflok nantinya kolam akan di rekayasa seperti habitat lele aslinya, dimana makanan utama ikan lele telah tersedia di dalam kolam. Mikro organisme yang di ciptakan berfungsi untuk untuk mengeloh limbah atau kotoran ikan menjadi gumpalan kecil atau flok yang akan menjadi makanan utama bagi lele itu sendiri.

Sistem budidaya lele bioflok sebenarnya sudah lebih dulu di jalankan oleh negara-negara maju seperti jepang, saat ini indonesia sudah mulai mengikuti jejak negara-negara maju tersebut.

Keuntungan budidaya lele sistem bioflok

Karena dalam sistem bioflok menggunakan mikro organisme sebagai pengganti pelet, otomatis biaya untuk pembelian pelet akan jauh lebih terjangkau.
Untuk lahan, sistem ini juga memiliki keunggulan yang sangat siknifikan, buat anda yang bermasalah dengan lahan saat ingin menjalankan usaha budidaya lele, sistem ini sangat cocok, dengan sistem bioflok untuk ukuran kolam 1 meter kubik mampu menampung hingga 1000 ekor, berbeda dengan cara biasanya yang hanya mampu menampung 100 ekor/m3.






Tahapan persiapan budidaya lele sistem bioflok
Pertama, siapkan bahan-bahan berikut untuk menciptakan mikro organisme dalam kolam
  1. Probiotik
  2. Ragi tempe
  3. Ragi tape
  4. Kapur dolomit
  5. tets tebu
Setelah semua bahan sudah ada, kemudian sediakan kolam, anda bisa membuatnya dengan terpal untuk menekan biaya pengeluaran. Untuk ukuran sesuaikan sengan lahan yang anda punya, bisa juga di pecah menjadi beberapa kolam dalam satu lahan agar lebih mudah dalam segi perawatan maupun pemantauan. Kapasitas kolam di sesuiakan, yaitu 1m3 untuk 800-1000 ekor.

Beri atap pada kolam untuk menghindari sinar matahari langsung dan air hujan, hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilan air dalam kolam. Lengkapi kolam dengan mesin airator untuk meniupkan udara kedalam kolam agar kadar oksigen tetap terjaga.

Setelah kolam siap, isi air dengan ketinggian 30-40 cm, ketinggian air tersebut untuk menjaga agar benih lele yang masih kecil tidak kelelahan saat menggapai pakan.
Kemudian masukan bahan-bahan berikut,
  1. Probiotik 5ml/m3
  2. Tetes tebu 250ml/m3
  3. Kapur dolomite 150gr/m3 ( tambahkan pada malam hari )
Hidupkan mesin airator selama 24 jam agar bahan-bahan diatas benar-benar tercampur, kemudian diamkan hingga 10-15 hari, untuk memastikan mikro organisme benar-benar sudah tumbuh. Tidak bisa di pastikan kapan mikro organisme yang kita tanam benar-benar sudah berkembang biak, namun beberapa ciri-ciri yang bisa anda jadikan patokan adalah, warna air yang berubah menjadi merah,biru, kecoklatan.

Setelah media benar-benar siap, lakukan penebaran benih ke dalam kolam, lakukan penebaran di pagi hari atau sore hari. Sebelum melakukan penebaran benih pastikan benih memiliki kualitas baik anda bisa baca 3 tips memilih benih lele kualitas baik untuk mengetahui ciri-cirinya.

Pemberian pakan, lakukan pemberian pakan secara teratur 2 kali sehari, dan konsentrasikan lebih banyak di malam hari, berikan pada pukul 9 pagi dan sembilan malam, jarak waktu 12 jam ini bertujuan untuk mengistirahatkan alatt pencernaan lele agar tetap sehat.

Sesuaikan pakan dengan ukuran lele, pemberian pakan yang berlebihan pada lele dengan ukuran yang masih kecil akan membuat pakan banyak yang terbuang, jika kotoran dan sisa makanan terlalu banyak mengendap di bawah kolam, di kawatirkan mikro organisme tidak mampu mengurai kotoran, yang bisa mencemari air.

Tamabahkan volum aire , makin hari lele akan tumbuh besar, untuk mencegah media kolam semakin menyempit, perlu di lakukan penambahan air secara bertahap hingga ketinggian 100-120cm,

Tambahkan bahan pembentuk mikro organisme, semakin hari nafsu makan lele akan bertambah banyak, kotoran yang di hasilkanpun akan bertambah, untuk menjaga agar kotoran tetap bisa terurai sehingga simbiosis mutualisme tetap terjaga, anda perlu menambahkan bahan-bahan berikut secara bertahap.
  1. Probiotik 5ml/m3
  2. Ragi tempe 1 sendok/m3
  3. Ragi tape 2 butir/m3
  4. Dolomite 200 gr/m3
  5. Tetes tebu 100 ml/m3
Larutkan bahan-bahan tersebut dengan air, dan berikan setiap 10 hari sekali dengan kadar yang di tambahkan menyesuaikan umur lele.

Perawatan 

Budidaya lele dengan sistem bioflok maupun organik sangat tergantung terhadap air untuk kelangsunganya, sangat di anjurkan untuk mengontrol PH air dalam kolam dan juga suhu, suhu yang tepat untuk sistem bioflok kisaran 25-28 derajat celsius. PH air yang terlalu rendah atu tinggi, dan suhu yang tidak stabil dapat mengakibatkan mikro organisme dalam kolam mati, tidak itu saja, bahkan lele pun bisa ikut mati.

Lakukan pengontorlan ikan secara rutin, jika terjadi perubahan semisal nafsu makan berkurang, bergerakan ikan tidak agresif lagi, segera lakukan tindakan pencegahan, cek apakah air sudah terlalu keruh dan bau cenderung tidak sedap, jika ia, ganti air hingga 50% menggunakan air bersih ( cocok air sumur ). 

Pemanenan
Puasakan lele 12 jam sampai satu hari sebelum panen, pindahkan air di dalam kolam ke kolam yang kosong, pemindahan air bertujuan agar air dapat di gunakan lagi dan anda tidak perlu melakukan proses dari awal untuk penebaran benih.

Saat anda ingin mulai kembali menanam benih, bersihkan kolam terlebih dahulu dengan sikat dan sabun agar benar-benar steril, keringkan kolam hingga benar-benar kering (1-2 hari), setelah itu isi kolam dengan air yang di pindahkan tadi dengan ketinggian 30 cm, lakukan pengisian air dengan komposisi 50% air bersih dan 50% air sisa panen.

Mungkin hanya ini yang bisa saya shere buat sobat, semoga bermanfaat.

Share this :

Previous
Next Post »